Pagi tadi berangkat kerja masih
seperti biasa naik angkot. Rute yang sama, macet yang sama, bahkan supir dan
penumpang pun sama seperti kemarin. Maklum, karena angkutan umum ini memang
tidak melalui jalan utama, tapi lewat jalan kampung, jadi penumpangnya ya dia
lagi-dia lagi, aku lagi-aku lagi, hehe..
Waktu naik angkot, di dalam
sudah ada tiga orang siswi SMP. Bisa ku kenali dari seragam yang mereka
kenakan, putih-biru dan kerudung putih yang menutupi kepala mereka. Aku
lemparkan senyum pada anak yang duduk di samping pintu, dia balas senyumku.
Lalu aku duduk di kursi paling pojok, ada dua alasan mengapa mengambil posisi ini.
Pertama ini posisi yang lumayan nyaman karena aku akan turun di pemberhentian
terakhir rute angkot itu jadi daripada harus menghalangi lalu-lalang penumpang
lain lebih baik ambil posisi pas, pojok. Kedua, kesempatan ini bisa kugunakan
untuk menambah hafalan atau sekedar muraja’ah, dan bisa juga sekedar pejamkan
mata jika sudah lelah,...
Senang rasanya jika seangkot
dengan anak-anak sekolah ini, karena biasanya mereka duduk sambil memegang
Al-Qur’an ditangan, sekali–kali mereka membukanya sedikit lalu menutupnya lagi
sambil mulut mereka terlihat komat-kamit, sepertinya sedang menghafal.
Pemandangan yang indah kan? Mereka adalah masa depan bagi kita kelak, melalui
mereka maka estafet dakwah bisa berlanjut.
Seperti halnya kita dahulu saat
belum memahami apa-apa, maka orang-orang disekitar kita yang membentuk kita.
Begitu pula dengan mereka, maka kita lah yang membentuk mereka, mengarahkan
mereka. apa jadinya jika estafet itu terhenti? Memang Alloh yang menjaga Islam
tetap tegak di bumi ini, tetapi tidakkah ingin kita turut serta menjadi bagian
dari tegaknya bangunan Islam di bumi ini, meski hanya sebagai sebutir pasir dalam bangunan tembok..
So,, mari Lanjutkan! Dimana pun, kapan pun,, 'amar ma'ruf nahi munkar..